Pendalaman Alkitab "TABERNAKEL" #16: Persiapan Tabernakel #3: Apa itu Hukum / Testimony?

 

22 JUNI 2012

 

Pdt. Paulus Budiono

 

Bersama istri kami sampaikan shalom!

Terima kasih untuk dukungan doa dan kehadiran saudara, kita semakin dipersatukan dalam pengajaran Tabernakel ini.

Jika saya renungkan, ada kemiripan sekaligus perbedaan antara bangsa Israel dengan kita. Dulu bangsa Israel sekalipun banyak, kira-kira 2,5 juta orang yang keluar dari Mesir, terdiri enam ratus ribu laki-laki yang dapat berperang, ditambah istri, anak-anak dan sekelompok orang dari bangsa lain yang ikut dalam rombongan bangsa Israel. Mereka selalu bersama-sama selama 40 tahun di padang gurun, bersama Harun mereka beribadah, jikalau Musa berbicara, mereka mendengarkan bersama. Menurut pandangan saya, kebersamaan ini merupakan sisi kemudahan bagi mereka sementara bagi kita merupakan hal yang sulit, sebab walaupun kita tinggal di dalam kota yang sama – Surabaya, tetapi jarak rumah kita berjauhan dan juga kita mempunyai kegiatan, kepentingan masing-masing yang berbeda. Sungguh sulit jikalau yang menjadi dasar ibadah kita bukan karena tertarik oleh firman yang menjadi manusia, yang telah bertabernakel di tengah kita dan telah berkurban untuk kita. Bukan hal yang mudah untuk menghimpunkan kita walaupun hanya satu minggu sekali, misal hari Jumat. Sekalipun demikian tidak mengapa karena saya mempunyai keya-kinan, selama kita mau mendengar, selemah-lemahnya, sesibuk-sibuknya kita jikalau hati diisi oleh firman yang menumbuhkan iman maka kita akan bertumbuh hingga mencapai suatu kedewasaan, kemandirian dan dapat dengan tegas menentukan, “Saya butuh pengajaran ini, saya mau masuk dalam proyek besar pada 2013.”

Malam ini kita sampai pada pertemuan yang ke 16. Kita kembali merenungkan hukum kasih Allah yang ada di dalam tabut perjanjian. Mari kita me”review” kembali apa tujuan Allah memerintahkan Musa untuk membuat Tabernakel dan yang pertama disebutkan yaitu tabut hukum. Mari kita membaca ;

Keluaran 25:10, 21-22

"Haruslah mereka membuat tabut dari kayu penaga, dua setengah hasta panjangnya, satu setengah hasta lebarnya dan satu setengah hasta tingginya. Haruslah kauletakkan tutup pendamaian itu di atas tabut dan dalam tabut itu engkau harus menaruh loh hukum, yang akan Kuberikan kepadamu. Dan di sanalah Aku akan bertemu dengan engkau dan dari atas tutup pendamaian itu, dari antara kedua kerub yang di atas tabut hukum itu, Aku akan berbicara dengan engkau tentang segala sesuatu yang akan Kuperintahkan kepadamu untuk disampaikan kepada orang Israel."

Tuhan Allah memerintahkan Musa untuk membuat kemah suci dalam bahasa asingnya adalah Tabernakel. Dengan demikian, kita dapat menggunakan kata Tabernakel atau pun kemah, sama! Allah tidak serta merta langsung mengatakan kepada Musa, “Buatlah peti perjanjian!” Tidak! Dimulai dengan tabut kemudian meningkat sampai akhirnya menjadi tabut perjanjian atau tabut hukum karena di dalamnya ada loh hukum, perjanjian antara Allah dengan manusia. Selanjutnya tabut perjanjian itu ditutup dengan tutup pendamaian dan Allah akan berbicara dari atasnya. Jadi penyebutannya meningkat, memberi pengertian kepada kita bahwa Tuhan adalah mahaguru. Dia mengetahui kemampuan manusia - Musa, sehingga Tuhan menunjukkan langkah-langkahnya, dapat kita baca dalam Keluaran 25 ayat 10 - 22. Kita dapat melihat adanya satu grafik yang meningkat dari penyampaian firman Tuhan kepada Musa di mana pada puncaknya, dikatakan “Di situlah Aku akan berbicara kepadamu”. Hal ini mengingatkan kita agar terus meningkat dalam membaca Alkitab. Mungkin saudara sedang membaca kitab Kejadian pasal 1, 2, atau kitab Keluaran dan kitab-kitab yang lain, jikalau kita menghayati pelan-pelan maka akan menemukan suatu titik-titik yang terus memuncak sehingga semakin lama makin me-ngenal Allah dan dikuatkan oleh firman itu. Apabila kita melihat secara global, kitab Kejadian merupakan permulaan segala sesuatu dan kitab Wahyu menyatakan dengan jelas rencana Allah yang mahabijaksana itu.

Kita mencoba melihat tabernakel secara fisik, supaya dapat mengetahui, mengerti dan menghargai, karena awalnya dari yang fisik, tetapi nanti akan meningkat menjadi hal yang rohani. Saya menampilkan tayangan, sebagaimana dikatakan Keluaran 25:21 “Kamu harus menaruh tutup pendamaian di atas tabut, di dalam tabut ada hukum, dan akhirnya Allah mengatakan Aku akan berbicara di antara dua kerub, di atas tabut hukum - perjanjian.”

Ada dua loh batu di dalam tabut, kemudian bagian atas tabut ditutup. Akhirnya Allah berbicara di antara dua kerub. Kita melihat pada tutup pendamaian, terbuat dari emas murni yang menyatakan bahwa Allah transenden dan di dalam tabut, ada dua loh hukum sehingga tabut ini disebut tabut hukum - tabut perjanjian. Tutup pendamaian artinya menutup dosa, ada tanda darah. Semua ukuran dibuat sangat tepat dan presisi sehingga benar-benar tertutup rapat. Tuhan mau berdiam di antara kita, dapat dibaca di dalam kitab Keluaran 25:8-9. Allah berkata kepada Musa, “Buatlah tabut atau kemah suci supaya Aku berdiam di tengah-tengah mereka.”

Keluaran 25:22a

Dan di sanalah Aku akan bertemu dengan engkau…..

Allah yang transenden, Dia mau ber-imanen di tengah kita maksudnya Dia datang di tengah-tengah kita, Dia mau bertemu dengan manusia - kita.

Keluaran 25:22b

…., Aku akan berbicara dengan engkau tentang segala sesuatu yang akan Kuperintahkan kepadamu untuk disampaikan kepada orang Israel."

Perhatikan! Terjadi komunikasi. Adanya Tabernakel berarti hadirnya hadirat Tuhan. ‘Untuk disampaikan kepada bangsa Israel’ artinya mengestafetkan, meneruskan! Apakah Musa mampu seorang diri menyampaikan kepada 2,5 juta manusia. Sangat mustahil! Bagaimana dia menyampaikannya? Jika saya membayangkan seandainya seorang diri harus menyampaikan suatu berita kepada penduduk kota Surabaya. Berapa waktu yang diperlukan? jujur saja tidak mampu!

Setelah Allah berbicara kepada Musa, maka Musa membicarakan - menghayati bersama-sama, kemudian mengkaderisasi dan mendelegasikan - mempercayakan sehingga firman itu dapat disampaikan - diestafetkan. Seperti halnya rasul Paulus, mempercayakan berita yang sangat luar biasa ini kepada murid-muridnya - Titus dan Timotius. Mulanya rasul Paulus juga berharap Demas dapat menjadi salah satu pe-nerus, mengestafetkan, ternyata Demas cinta dunia, tidak lagi bergabung di dalam “team” pemberitaan firman rasul Paulus. Tuhan Yesus walaupun Dia adalah firman itu sendiri, yang bertabernakel di tengah kita namun Dia mendidik dua belas murid, sehingga saat itu Yesus secara manusia mempunyai keyakinan “Kamulah saksi-Ku, kamu akan menyampaikan firman-Ku - diri-Ku dari Yerusalem, Yudea, Samaria sampai ujung bumi.” Dari dua belas rasul, satu tidak mau, no problem. Tuhan tidak memaksa Yudas Tuhan mempunyai yang lain, Mathias.

Hari-hari ini Tuhan menginginkan kita untuk mempersiapkan diri dalam pekerjaan pembangunan Tabernakel secara rohani. Saya tidak mau memaksa, hanya dapat berkata, “Mari kita memberi diri untuk mendengar, melengkapi diri dengan pengajaran yang benar-benar sesuai dengan apa kata Alkitab.

Bangsa Israel dituntut selama enam bulan, untuk menyelesaikan Tabernakel dan mereka bisa. Mengapa? Seperti yang saya katakan pada permulaan, bagi mereka ada keuntungan yaitu tinggal bersama dalam satu daerah, sehingga tidak bisa me-nyembunyikan diri dan mengelak, mereka mengerjakan bersama. Bagi kita tidak mudah! Semoga firman Tuhan yang kita dengar malam ini semakin menggairahkan, mempersiapkan hati kita sebab Tuhan mau datang, berkomunikasi dengan kita. Kalau kita percaya Yesus adalah firman itu sendiri yang bertabernakel maka ketika Dia berbicara secara perorangan kepada kita, setelah mengerti maka kita meneruskan kepada yang lain. Kita membaca:

Keluaran 31:18

Dan TUHAN memberikan kepada Musa, setelah Ia selesai berbicara dengan dia di gunung Sinai, kedua loh hukum Allah, loh batu, yang ditulisi oleh jari Allah.

Tuhan berkata “Aku sudah berbicara dan menulis, sekarang Aku berikan kepadamu." Tuhan menyerahkan loh batu kepada Musa. Bahwa kita semua mempunyai hati, secara rohani disebut loh hati. Saat kita mendengar firman Tuhan, maka biarlah loh hati kita diukir dengan jari Tuhan - Roh Kudus, sehingga waktu kita pulang kemudian membuka alkitab, dari dalam hati ini akan muncul firman Allah yang telah kita dengar, jangan sampai hati kita kosong. Setelah Musa menerima 2 loh batu, secara fisik dia terus membawanya, yang kemudian dimasukkan ke dalam tabut perjanjian. Kitapun masing-masing membawa alkitab, tetapi yang lebih penting daripada itu adalah waktu Allah sudah berbicara melalui firman-Nya, firman - 10 hukum itu harus terukir dalam hati kita. Kita segera masuk pada 3 point pelajaran malam ini yaitu :

1. Siapa pemberi hukum itu ?

2. Apa tujuan hukum itu ?

3. Bagaimana isi hukum Itu ?

Kita membaca :

Yohanes 1 : 14

Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Sekali lagi jika kita berbicara tentang firman, itulah Tuhan Yesus Kristus sendiri, dan jika kita berbicara alkitab, itulah firman Allah sendiri, firman yang selalu menampilkan Kristus sebagai sentral pembahasan, perenungan kita, baik di dalam perjanjian lama maupun perjanjian baru. Mari kita masuk pada pemberi hukum. Kita membaca;

Keluaran 20:1-2

Lalu Allah mengucapkan segala firman ini: "Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.

16-1

Tuhan katakan "Akulah Tuhan Allahmu." Kata ‘TUHAN’ kalau dalam bahasa Indonesia ditulis dengan huruf besar semua, menunjuk pada Yahweh, Allah yang tidak ada duanya. Allah (dengan huruf kecil) dalam bahasa Ibrani disebut Elohim, ada juga yang menyebut Adonay, dapat dipakai oleh bangsa lain yang mempuyai agama sendiri. Mereka juga menyebut Elohim, karena mereka anggap mempunyai pengertian 'ada satu yang berkuasa.' Jikalau Elohim yaitu Allah bisa dipakai oleh bangsa-bangsa lain tetapi TUHAN atau Yahwe tidak bisa disebut oleh bangsa lain. YHWH sebenarnya tidak bisa disebut Yehova atau Yahwe dan sampai hari ini orang Yahudi tidak bisa dan tidak berani membacanya. Karena merupakan huruf mati semua, YHWH. Dialah yang berkata kepada Musa pada Keluaran pasal 3 ketika Musa bertanya “siapakah namamu Allah, Elohim, Adonay?” Maka Allah atau Elohim yang di kenal Musa itu menjawab “Aku Yahweh, Aku adalah Aku Yang Ada” Bagaimana caranya Allah ada ? Tidak bisa diketahui!

16-2

Dia berkata "Yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir dari tempat perbudakan." Ini harus selalu diingat oleh bangsa Israel. Bagaimana caranya? Musa harus terus menerus mengulang-ulangi. Setiap kali pertemuan, setiap kali ibadah, selalu dibacakan! Pada waktu itu tidak ada Alkitab, yang ada ha-nyalah 10 hukum, dan beberapa peraturan-peraturan yang disampaikan, maka 10 hukum inilah yang berulang-ulang disampaikan. Janganlah lupa, bahwa Allah sendiri yang memberi hukum, perintah dan perjanjian itu.

'Allah yang Transenden' berfirman kepada Musa “Ingatlah, bahwa engkau - bangsa Israel dahulu diperbudak, tetapi sekarang telah Kulepaskan.” Seorang budak – hamba memiliki kecenderungan untuk taat. Selama kira-kira 450 th mereka taat, takluk, tunduk kepada peraturan Firaun, Mesir. Sekarang Tuhan mau supaya bangsa Israel tahu : Aku - Tuhan tidak memperbudak umatnya lagi. Tuhan merindukan bangsa Israel mengabdi sepenuhnya kepada Tuhan yang Mahaesa, yang membebaskan - melepaskan. Kita membaca:

Roma 6 : 15-18

Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak! Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran? Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu.

16-3

Saya mengambil ayat ini supaya kita disadarkan kembali bahwa perbudakan di Mesir sekarang menunjuk perbudakan dosa. Kalau kita sekarang sudah dilepaskan dari dosa maka seharusnya tunduk, taat kepada kebenaran. Karena Allah berkata "Akulah Allah Tuhanmu yang membawa kamu keluar dari Mesir rumah perbudakan dan sekarang Aku memberikan hukum ini." Tuhan Allah menginginkan supaya bangsa Israel mendengar dengan baik dan taat.

16-4

Kita kembali pada “Aku akan berbicara, dan engkau harus berbicara, menyampaikan, meneruskan perintah ini kepada bangsa Israel." Mari kita mencoba menghubungkan dengan kitab Ulangan. Setelah hampir lewat 40 tahun di padang belantara, kemudian diulangi, kita membaca;

Ulangan 4:1-2

"Maka sekarang, hai orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan, supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu. Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya, de-ngan demikian kamu berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu.

Di dalam kitab Ulangan, kita menemukan bahwa Musa menulis atau berkotbah lagi di pinggir sungai Yordan. Ada rentang waktu 40th, dari saat Musa bersama bangsa Israel mendegar suara Allah dalam guntur dan kilat yang begitu hebat, menakutkan, di gunung Sinai sampai saat Musa berkata di dalam Ulangan pasal 4 ini. Ternyata setelah melewati 40 tahun, Musa masih konsisten, suaranya masih lantang walaupun umurnya semakin tua. Waktu Musa dipanggil Tuhan untuk menjadi pemimpin umurnya 80 tahun dan ia meninggal pada usia 120 tahun. Selama 40 tahun nada ketegasan tentang firman yang dia terima tidak berubah. Ini menjadi suatu dorongan buat hamba-hamba Tuhan. Jangan karena usia semakin bertambah, maka kita menjadi lembek dalam kebenaran firman Allah. Dunia berubah, bangsa Israel tadinya di Mesir, kemudian keluar 3 bulan di bawah gunung Sinai. Sekarang tidak di bawah gunung Sinai, tetapi di depan sungai Yordan. Setelah melewati 40 th, kita dapat membayangkan berapa banyak perubahan-perubahan yang terjadi. Pada th 1969 kami sekeluarga berangkat ke Irian, kemudian th 2002 kami kembali ke Surabaya. Saya menjadi bingung, bahkan sampai hari ini masih banyak jalan yang belum saya kenal.

Selama 40 th Musa bersama 2,5 juta orang bangsa Israel berputar-putar, dari satu tempat ke tempat yang lain, menjumpai berbagai macam penduduk. Tetapi Musa tidak pernah berubah! Dia tetap mengingatkan “Dengarkanlah apa yang saya sampaikan ini!”, berarti Musa mempunyai keyakinan bahwa apa yang dia sampaikan, bukan kotbah dari dirinya, bukan ungkapan baru atau sesuatu yang dia rekayasa, tetapi persis dengan apa yang dia terima 40 th yang lalu. Ini penting! Kita membaca;

Ulangan 4:9-10

Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anak-anakmu dan kepada cucu cicitmu semuanya itu, yakni hari itu ketika engkau berdiri di hadapan TUHAN, Allahmu, di Horeb, waktu TUHAN berfirman kepadaku: Suruhlah bangsa itu berkumpul kepada-Ku, maka Aku akan memberi mereka mendengar segala perkataan-Ku, sehingga mereka takut kepada-Ku selama mereka hidup di muka bumi dan mengajarkan demikian kepada anak-anak mereka.

Dunia dapat berubah dan tehnologi menjadi sangat canggih, tetapi Firman Allah tidak berubah. Ini luar biasa. Dahulu 10 hukum di tulis pada dua loh batu, tetapi sekarang 10 hukum dapat ditulis pada selembar kertas yang tipis, bahkan bisa berada di ipad, laptop atau tilpon genggam kita. Perintah ini harus diestafetkan kepada seluruh sidang jemaat, bukan hanya untuk hamba Tuhan atau para Penatua, perintah ini tidak boleh di lupakan!

Mungkin saat ini saudara memiliki anak yang masih kecil dan membawanya ke Sekolah Minggu, setelah 40 tahun dia menjadi dewasa dan menikah, dan saudara telah menjadi Opa dan Oma, tetapi didikan dan nasihat saudara tentang 10 hukum itu harus tetap sama! Sebab yang berfirman itu bukan manusia, tetapi Allah Yehova yang tidak berubah.

Ulangan 4:2

Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan ja-nganlah kamu menguranginya, dengan demikian kamu berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu.

Seorang hamba Tuhan harus berani mengatakan bahwa apa yang di sampaikan adalah ‘murni’ Firman Allah dan hal itu di buktikan dengan tidak menambah atau menguranginya. Mengunci atau mengakhiri penulisan seluruh Firman Allah – Alkitab di dalam kitab Wahyu di katakan, “Jangan menambah, jangan mengurangi”. Siapa menambah Firman Allah, maka akan mendapat banyak masalah dan malapetaka. Siapa yang mengurangi Firman Allah maka akan kehilangan kota Yerusalem Baru dan Pohon Kehidupan. Yang di maksud tidak di tambah dan di kurang adalah 10 hukum/perintah.

Ulangan 5:22,21,7,6

Firman itulah yang diucapkan TUHAN kepada seluruh jemaahmu dengan suara nyaring di gunung, dari tengah-tengah api, awan dan kegelapan, dan tidak ditambahkan-Nya apa-apa lagi. Ditulis-Nya semuanya pada dua loh batu, lalu diberikan-Nya kepadaku." Jangan mengingini isteri sesamamu, dan jangan menghasratkan rumahnya, atau ladangnya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya, atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu. ( ini hukum yang ke 10) Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. ( hukum pertama ) Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.

Pertama kali 10 hukum disampaikan dalam kitab Keluaran, tetapi 40 tahun kemudian di sampaikan kembali dalam kitab Ulangan, tidak ada perubahan. Jadi kitab Ulangan dan Keluaran itu selaras. Firman Allah tidak boleh ditambah atau dikurangi, hanya yang tertulis dalam 66 kitab dalam Alkitab yang terdiri dari 39 kitab di Perjanjian Lama dan 27 Kitab di Perjanjian Baru, tidak ada yang lain. Mulai kitab Kejadian sampai Wahyu pasti dapat ditemukan benang merah atau kaitannya. Firman itu telah menjadi manusia dan ber-Tabernakel diantara kita, hal ini perlu terus menerus diingatkan.

Ulangan 6:3-9

Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.   Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.

Sepuluh hukum harus disampaikan kepada semua orang, sejak anak-anak harus dididik dan diajar berulang-ulang. Mereka harus menghafal 10 hukum ini dan tidak boleh bosan.

Ulangan 11:18-21

Tetapi kamu harus menaruh perkataanku ini dalam hatimu dan dalam jiwamu; kamu harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu. Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu de-ngan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun; engkau harus menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu, supaya panjang umurmu dan umur anak-anakmu di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepada mereka, selama ada langit di atas bumi.

Perintah itu telah disampaikan di pasal 6, tetapi di pasal 11 diulangi kembali. Kadang-kadang kita bosan jika mendengar Firman yang di ulang-ulang, padahal ini perintah Tuhan. Kita harus belajar mengerti, mengapa seorang hamba Tuhan mengulang-ulang ayat firman yang disampaikannya. Saya mempunyai pengalaman saat mengikuti KKR di Irian, Pendeta itu mengulang-ulangi ayat tertentu, saya merasa ada sesuatu yang menegur saya.

Dalam kitab Amsal, 10 hukum ini diulangi lagi walaupun dalam bentuk yang berbeda, tetapi inti dan isinya sama. Di Perjanjian Baru diulangi kembali oleh Yesus, mereka bertanya mana hukum Allah yang terbesar. Mereka ingin membanding-bandingkan mana hukum yang paling besar dan yang paling kecil. “Saya tidak bisa melakukan hukum yang kedua - amat sulit, jadi saya coba hukum ke 10 saja”.

Bangsa Israel, suka mencari mana yang paling berat dan yang ringan, mereka memilih yang paling ringan. “Firman Tuhan ini terlalu berat - saya tidak bisa, firman ini untuk pendeta dan penatua, saya yang ringan dan yang gampang saja”.

“Kalau ini dosanya kecil, yang ini dosanya besar”. Firman Tuhan tidak pernah mengatakan ada dosa kecil dan dosa besar, semua upah dosa adalah maut! Dosa besar, kecil, hitam, putih, semua upahnya adalah : maut dan perlu solusi! Maka hukum ini perlu di berikan dan di ulang-ulang supaya kita tidak melupakannya.

Kalau kaum muda ingin bertumbuh, periksa HP dan BB nya, apakah ada firman Allah atau gambar porno dan yang bukan firman Allah.

Tuhan telah mengeluarkan kita dari perbudakan dosa karena kurban Domba Paskah yang tidak bercela (1Petrus 1), Kristus-lah yang telah memerdekakan kita (Galatia 5:1).

Ingat : “hanya Tuhan yang berfirman!” Sekalipun Musa dipakai Tuhan untuk meneruskan Firman-Nya, tetapi Musa tidak pernah berbicara menurut kehendaknya sendiri. Ini mendidik kita hamba Tuhan untuk memeriksa lebih banyak. Sehingga waktu berkhotbah, kita merenungkan, mengharapkan iluminasi, pencerahan, ung-kapan, semua terkait di dalam konteks Firman yang sesungguhnya. Maka kita tidak seenaknya menguraikan dan mengatakan, “saya mendapat ungkapan”. Ungkapan apapun yang di sampaikan, tidak boleh keluar dari kebenaran Alkitab / Firman Tuhan.

Saya bersyukur dan memuji Tuhan jika tadi mendengar dari Ivan – Kepala STTIA bersama para stafnya telah sepakat bahwa peraturan-peraturan yang ada di STTIA, Progsus, dan SAPTA semuanya kembali kepada apa kata Alkitab. Kita tidak perlu mencari dari peraturan-peraturan sekuler, cukup hukum dari Allah karena hukum – peraturan-Nya itu sempurna, menjaga kesucian, memberi perlindungan, pe-ngayoman, dan di dalamnya ada banyak berkat. Peraturan-peraturan sekuler tidak mampu menjaga kesucian anak muda, filosofi pernikahan tidak mampu membuat suami mencintai istri agar kehidupan nikah itu harmonis.

16-5

Alkitab sudah menjawab dengan sempurna. Itu sebabnya Tuhan katakan “Hanya Aku yang dapat menebus.” Jadi pikiran kita hanya tertuju kepada Yesus, hanya Yesus yang bisa menyelesaikan segala perkara. Allah membawa sekian juta bangsa Israel keluar dari Mesir dalam satu malam hanya dengan Kurban Anak Domba Paskah. Jangan kita mengeluh dan mencari solusi di luar Tuhan, hanya Anak Domba Paskah bagi bangsa Israel, yaitu Yesus Kristus bagi kita,yang dapat memberikan jalan keluar dari segala masalah; nikah, keluarga, usaha bahkan kekekalan sudah terdapat dalam hukum Allah.

Di dalam kitab Keluaran 20, bangsa Israel ketakutan, namun Tuhan ingin supaya kita tahu siapa Allah. Sesungguhnya Dia ingin menguji kita supaya belajar hormat dan mengasihi Tuhan, jika kita mengerti ini, kita akan berterima kasih dan tidak sulit untuk melakukan Firman-Nya. Tuhan Yesus berkata dalam Yohanes 14, “Jikalau seorang mengasihi Aku, maka dia akan melakukan segala perintah-Ku.” Masalahnya hanyalah cinta, sedangkan hukum ini adalah hukum cinta. Jikalau kita menelaah dengan baik maka kita tahu bahwa Allah memberi sepuluh hukum kepada bangsa Israel karena Allah ingin menyatakan kasih-Nya. “Kasih-Ku sudah lama tidak ada di dalam manusia, Aku akan memberikannya, supaya kasih-Ku dapat mengayomi mereka.” Yesus mengatakan demikian, rasul Yohanes juga mengatakan demikian di dalam :

1 Yohanes 5 : 1 – 3

Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang me-ngasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga dia yang lahir dari pada-Nya. Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya. Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat,

16-6

Kita mendapat pengertian bahwa perintah-Nya itu tidak berat. Jika kita menghayati sepuluh hukum maka kita akan melihat di balik sepuluh hukum itu ada sesuatu yang indah karena hukum ini adalah perjanjian. Pada masa itu, hukum ini sudah dinyatakan terlebih dulu melalui kontak suara, kemudian ditulis dalam bentuk tulisan dan diukir dalam loh batu supaya bangsa Israel menjadi warga yang kudus dan imamat yang rajani.

Mengapa ada hukum? Kita tahu bahwa setiap kerajaan atau pemerintahan haruslah memiliki hukum atau undang-undang yang fungsinya adalah untuk menjaga ‘kesucian’. Supaya pikiran rakyatnya menjadi ‘suci’ sehingga tidak korupsi, tidak terjadi perselingkuhan (ada undang-undang pernikahan – bahwa pernikahan harus resmi), taat membayar pajak. Itu semua mengandung kesucian. Apakah bangsa Indonesia sudah suci? Tidak, masih kotor sekali karena banyak korupsi dan sebagainya. Itu sebabnya kita sebagai orang Kristen mempunyai suatu beban dan tanggungjawab.

16-7

Jika gereja Tuhan juga ikut-ikutan tidak suci, tidak dapat menjalan 10 hukum Allah maka mau jadi apa bangsa Indonesia? Karena saya percaya tidak ada hukum yang lebih hebat dan sempurna daripada sepuluh hukum Allah. Allah kita adalah Allah yang sempurna maka hukum-Nya juga sempurna.

16-8

Dalam peraturan pemerintah seperti tidak korupsi sudah tertulis pada 10 hukum, yaitu yang kesepuluh tertulis “jangan mengingini.” Tetapi dalam hukum di Indonesia tidak tercantum “Tidak boleh ada Allah yang lain”, semua terserah pada agama masing-masing. Kurang ada ketegasan bagi penyembah berhala, patung, batu, mencari dukun, menggunakan jimat, bahkan menggunakan santet. Itu semua tidak ada dalam hukum Indonesia, tetapi hukum Allah dimulai dari “Jangan ada allah lain, tetapi hanya Aku Allah yang mahaesa.”

Kita tahu dan yakini bahwa sepuluh hukum ini adalah hukum kasih kepada Allah dan sesama manusia. Saya dan istri sering sharing tentang orang Kristen saat ini, yang hidup dalam perjanjian baru seringkali terlalu mengecilkan dan meremehkan sepuluh hukum. Padahal kita tahu Yesus sendiri berkata bahwa sepuluh hukum dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian pertama kasih kepada Allah dengan segenap hidup, hati, pikiran dan tenaga, bagian kedua adalah kasih kepada sesama manusia. Tetapi kita tidak tahu apa sebenarnya isi sepuluh hukum itu, sehingga seringkali dalam mengasihi sesama masih tidak dengan cara yang benar.

Mengasihi sesama berarti saya mengasihi istri, tapi mengapa saya dan istri pernah bertengkar, cekcok, mempunyai banyak masalah? Berarti saya tidak mengerti makna dari nikah, saya hanya tahu mengasihi sesama. Mengapa masih banyak hamba Tuhan iri hati kepada hamba Tuhan yang lain? Mengapa masih banyak hamba Tuhan suka menjelekkan hamba Tuhan yang lain? Kita seringkali terlalu mengabaikan 10 hukum, kita mengatakan bahwa kita mengasihi Allah tapi sebenarnya apakah hati kita mengasihi Allah? Itu sebabnya kenapa kita masih perlu mempelajari sepuluh hukum dengan baik. Mari kita membaca;

Keluaran 20 : 3 – 17

Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.

Saya sebagai pendeta harus menyampaikan lagi ayat ini kepada jemaat, sebagai bapak harus menyampaikan lagi ayat ini kepada anak-anak, sebagai suami harus membacakan ayat ini untuk istri. Bagi para istri yang suaminya belum bertobat, mari bacakan ayat ini supaya nikah saudara diberkati, supaya usaha saudara diberkati. Bagi anak-anak yang malam ini membaca ayat ini, kalian harus membacakan ulang kepada orang tuamu. Ada sedikit kesaksian, ketika kami membuka TK di Sorong, ada beberapa murid dari Protestan. Dua atau tiga minggu kemudian bapaknya datang untuk berterimakasih kepada kami, karena sejak anaknya menjadi murid di TK kami, bapak tersebut telah diingatkan berdoa. Bapak ini adalah orang Kristen tetapi tidak pernah berdoa, tidak pernah ikut kebaktian. Tetapi waktu anaknya dididik di TK Moria, ia mengingatkan bapaknya untuk berdoa ketika akan makan. Jadi anak-anak bisa membacakan ayat-ayat ini untuk orang tuanya, tidak perlu diuraikan atau khotbah cukup bacakan saja. Kalau saudara yakin bahwa ini Firman Allah maka firman yang telah menolong bangsa Israel juga akan menolong kita semua.

16-9

Keluaran 20 : 3 – 17

Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.

Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.

Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.

Jangan menyebut nama Tuhan, Allahmu, dengan sembarangan, sebab Tuhan akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.

Ingat dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat Tuhan, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya Tuhan menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya Tuhan memberkati hari Sabat dan menguduskannya.

Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu.

Jangan membunuh.

Jangan berzinah.

Jangan mencuri.

Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.

Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu.

Bacalah ayat-ayat ini tiap hari, bukan berarti kita kembali kepada Taurat tetapi harus menghayati dulu mengapa Tuhan memberikan sepuluh hukum ini. Tuhan katakan “Aku tidak merombak tetapi menggenapi sepuluh hukum.” Itu sebabnya kita harus belajar, mungkin dalam minggu-minggu ini kita masih terus menekuni sepuluh hukum karena ini sangat penting.

Perintah ‘Tidak boleh ada allah lain, setelah sekian ratus tahun Allah mengatakan lagi kepada nabi Yesaya agar mengatakan kepada bangsa Israel bahwa tidak boleh ada allah yang lain.Dengan apa engkau samakan Aku dengan yang lain? Tidak ada yang lain kecuali Aku.” (bacaYesaya 45).

Keluaran 20:3

“ Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. ”

16-10

Dalam bahasa Mandarin sedikit kurang, dikatakan ‘selain Aku’ tetapi dalam bahasa Indonesia bagus, sama dengan bahasa Ibrani, ‘di hadapan-Ku’ artinya di depan muka-Ku. Secara gamblang, saya berbicara kepada istriku,”Esther Budiono, di hadapan mukaku, tidak boleh ada laki-laki lain, kecuali aku, suamimu”. Di hadapanKu, kamu tidak boleh mempunyai illah yang lain. Tapi bagaimana dengan kita? Kadang tanpa sadar kita memiliki sesuatu di dalam hati yang melebihi Tuhan. Itulah berhala, suatu illah yang lain!

16-11

Allah berkata kepada Yehezkiel, “Lihatlah, penatua-penatua datang di depanmu, dengan mulutnya mereka mencari Aku, tapi hati mereka sudah menerima illah yang lain.” Pada waktu itu, Yehezkiel tidak bisa mengetahui apa yang terkandung dalam hati penatua Israel tetapi Allah mengetahui. Bangsa Israel tidak mengerti, menganggap Allah tidak kelihatan. Pemazmur mengatakan, “Tuhan, ke mana aku dapat lari dari hadapanMu? Waktu aku masuk dalam tubir laut, Engkau ada di situ, ketika aku lari sampai di atas planet-planet, Engkau-pun ada di sana”. Seringkali manusia, khususnya bangsa Israel, tidak yakin bahwa Allah ada di tengah-tengah mereka. Allah transenden, Dia ingin imanen di tengah-tengah bangsa Israel. Sudah nyata tabernakel-Nya, hadirat-Nya, sudah melihat tiang api di malam hari dan tiang awan di siang hari, tetapi bangsa Israel tidak mau percaya.

16-12

Saya tidak berzinah, tetapi ketika melihat perempuan, mengingininya, saya tidak berzinah, tetapi saat melihat suami orang lain, mengingininya. Itu berarti ada illah lain di dalamnya, bukan Allah, bukan Yesus. Hanya Yesus, satu-satunya Allah, Firman yang bertabernakel di tengah kita, melindungi dari perselingkuhan, korupsi, dan lain sebagainya. Tuhan melihat HP-HP saudara, suami-suami, istri-istri, anak-anak apa isinya? Saya belajar, bukan karena saya suci dan hebat, sms apapun yang masuk, saya minta istri untuk membaca, demikian pula sebaliknya. Kita belajar dari Firman Allah, selain Aku, tidak boleh ada illah yang lain.

16-13

Ini harus tertanam dalam hati pikiran kita semua. Saat saya menyampaikan ini, Dia ada di sini, di dalam hati saya dan saudara. Dia - Allah yang tidak ada duanya. Dia ingin melindungi, menolong, menyelamatkan, me-ngayomi kita. Allah terpaksa mengusir Adam dan Hawa dari taman Eden, tapi Allah ingin berbalik, berdamai dengan manusia. Dia berupaya memilih Abraham, berupaya mencintai keturunannya menjadi bangsa Israel.

Tentang 10 hukum, dalam Yakobus dikatakan,”Jika engkau tidak bezinah, tetapi membunuh, maka melanggar hukum Tuhan. Jika satu hukum dilanggar, berarti semua hukum juga turut dilanggar”. Mengapa? Karena 10 hukum merupakan satu pribadi Allah – Yesus yang dinyatakan kepada manusia, sampai di atas kayu salib, kembali hukum kasih dinyatakan dan hanya satu, tidak ada duanya.

Waktu Allah berbicara dalam guntur yang hebat tentang 10 hukum, bangsa Israel ketakutan, gemetar, mereka tidak mau lagi mendengar, tetapi mereka berjanji, kalau Musa yang berbicara, mereka mau mendengar. Apakah mereka benar-benar mendengar suara Musa? Tidak! Mereka hanya berjanji. Seringkali kita juga hanya berjanji!.

16-14

10 hukum ditulis pada sisi muka dan belakang 2 loh batu secara lengkap, ditaruh di dalam peti, sehingga menjadi peti perjanjian, kemudian ditutup dengan tutup pendamaian, di situlah Allah menyampaikan kasihNya. Perhatikan baik-baik, kita sudah membaca Yohanes 1:14, Firman itu menjadi manusia dan bertabernakel di tengah kita, berbicara tentang tabernakel, berarti berbicara mengenai hukum yang ada di dalam peti perjanjian, 10 hukum. Kita membaca:

16-15

Keluaran 38:21

“Inilah daftar biaya untuk mendirikan Kemah Suci, yakni Kemah Suci, tempat hukum Allah, yang disusun atas perintah Musa, oleh orang Lewi di bawah pimpinan Itamar, anak imam Harun.”

Kita melihat pendelegasian, kerja sama, yang baik, tidak selalu Musa, terkait dengan daftar biaya pembangunan kemah suci - kemah hukum Allah. Kita sekarang sedang merekrut tenaga-tenaga, ada yang mempersiapkan finansial untuk dipergunakan pada waktunya, semuanya kembali pada apa kata Alkitab.

Dimulai pasal 25, perintah untuk mendirikan kemah suci supaya Aku tinggal di dalamnya. Melalui perencanaan, pembangunan, semua biaya dirinci, diperhitungkan. Kalau kemah tabernakel itu adalah Yesus sejati, maka di dalam Yesus sejati ada hukum Kasih. Jika saudara kurang sabar, kasih Allah akan membuat saudara bersabar, kalau saudara merasa kurang kekuatan, hukum kasih - Yesus, akan memulihkan kekuatan saudara. Tuhan dapat menyucikan mata saudara, mata suami-suami untuk tidak mata keranjang, mata istri-istri supaya jangan terus ke mall dan membeli semua barang.

16-16

Di dalam Ibrani 10 mengatakan, “Hanya oleh satu kurban saja, yang dapat menyempurnakan orang-orang yang dikuduskan.” Itu sebabnya, kita tidak perlu takut, karena Firman itu adalah hukum kasih.

Pegang janji ini, Tuhan menyelidiki hati manusia, menyelidiki saya dan saudara yang penuh dengan segala kekurangan, pastikan kita hanya melihat Yesus, karena Dia itulah tabernakel, di dalam tabernakel ada hukum kasih. Apakah masih ragu-ragu? Saya mempunyai pengalaman yang luar biasa, dimulai dalam segala kesederhanaan, tahun-tahun yang lalu di Sorong, kami suami istri, bukan tidak ada masalah, tetapi jika sampai hari ini kami berdua bisa melayani bersama anak-anak, itu semua karena Kristosentris. Dulu saya kurang mengerti, tetapi sekarang, saya lebih bisa melihat, merupakan suatu progress yang meningkat. Mungkin saudara juga, di waktu lampau, tidak begitu mengenal, tidak begitu konsentrasi kepada Firman Allah, malam ini konsentrasikan hanya kepada Dia!

16-17

Hanya Aku, tidak ada yang lain, artinya sumber kasih, sumber kesucian, sumber segala sumber yang baik, hanya di dalam Tuhan Yesus Kristus!

Jikalau rumah tangga saudara mengalami kekacauan, jangan menyalahkan siapapun, jangan menyalahkan dunia, kondisi, pabrik, istri, suami, segera kembali kepada Tuhan, katakan “Aku perlu Engkau, Tuhan”.

16-18

Bangsa Israel memerlukan tabernakel, karena di dalam tabernakel ada Peti Perjanjian, di dalam Peti Perjanjian ada loh hukum, dan Allah akan berbicara dari atasnya, untuk apa? Untuk mengayomi 2,5 juta bangsa Israel dan juga mengayomi kita semua. Malam ini, maukah kita dilindungi? Kalau kita mau, kita menyerah, ”Tuhan, selidikilah aku, kenalilah hatiku, supaya aku berlayak di hadapan-Mu”. Tugas Jumat depan bacalah Keluaran 20, kita akan belajar hukum yang kedua.

Amin.